Headlines News :
Home » , , , » Sejarah Kujang

Sejarah Kujang

Written By Kang Ewo on Sabtu, 14 Maret 2015 | 00.43

Kujang adalah senjata unik dari daerah Jawa Barat. Kujang mulai dibuat sekitar abad ke-8 atau ke-9, terbuat dari besi, baja dan prestise material, panjangnya sekitar 20 sampai 25 cm dan berat sekitar 300 gram



Kujang dikenal sebagai obyek tradisional Jawa Barat (Sunda) yang memiliki nilai sakral dan memiliki kekuatan magis. Beberapa peneliti [siapa?] Serikat bahwa istilah "kujang" berasal dari kata kudihyang (kudi dan Hyang Kujang (juga). Berasal dari kata Ujang, yang berarti manusia atau manusa. Manusia kuat sebagai Prabu Siliwangi.

Kudi diambil dari bahasa Sunda yang berarti senjata kuno yang memiliki kekuatan magis yang kuat, sebagai jimat, sebagai penolak bala, seperti untuk mengusir musuh atau menghindari bahaya / penyakit [rujukan?]. Senjata ini juga disimpan sebagai pusaka, yang digunakan untuk melindungi rumah dari bahaya dengan menempatkan mereka dalam sebuah peti atau tempat tertentu di rumah atau dengan meletakkan di tempat tidur (Hazeu, 1904: 405-406). Sementara itu, Hyang bisa disamakan dengan gagasan seorang dewa dalam mitologi, tetapi untuk Hyang masyarakat Sunda memiliki arti dan posisi di Dewa, ini tercermin dalam doktrin "Dasa Prebakti" yang tercermin dalam teks Penyiksaan Trance Kanda Karesian Ng disebutkan "Dewa ditahbiskan pada hyang".

Secara umum kujang mempunyai pengertian sebagai pusaka yang memiliki daya tertentu yang berasal dari dewa (= Hyang), dan sebagai senjata, lama hingga saat ini Kujang menempati posisi yang sangat istimewa dalam masyarakat Jawa Barat (Sunda). Sebagai lambang atau simbol dengan niali-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, Kujang dipakai sebagai salah satu lambang estetika serta beberapa organisasi pemerintah. Selain itu, Kujang juga digunakan sebagai nama berbagai organisasi, kesatuan dan tentunya juga digunakan oleh pemerintah provinsi Jawa Barat.

Kujang di masa lalu tidak dapat dipisahkan dari masyarakat karena fungsinya sebagai peralatan pertanian Sunda. Laporan yang terkandung dalam naskah Penyiksaan Trance Kanda Ng Karesian (1518 M) dan tradisi lisan yang berkembang di beberapa daerah seperti di bidang perancah, Kudat. Bukti yang memperkuat pernyataan bahwa kujang sebagai peralatan pertanian, kita masih bisa melihat sampai hari ini di Baduy, Banten dan Pancer Pangawinan di Sukabumi.

Dengan kemajuan pembangunan, teknologi, budaya, sosial dan ekonomi Sunda, pertumbuhan juga berpengalaman dan pergeseran bentuk, fungsi dan makna. Dari peralatan pertanian, kujang berkembang menjadi sebuah benda yang memiliki karakter tersendiri dan cenderung menjadi senjata yang berharga simbolik dan sakral. Kujang adalah bentuk baru seperti yang kita kenal sekarang lahir diperkirakan antara abad ke-9 sampai abad ke-12.
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Kanjeng Igon | Kanjeng Igon
Copyright © 2015. LASKAR WAYANG SEJATI.COM - Hak cipta dilindungi
Template Dibuat by Kangjeng Igon Published by Kanjeng Igon
Proudly powered by Igon